Jumat, 24 Januari 2020

Bab Budaya Wewaler




~Gugon Tuhon~

   Salah satu fenomena yang menarik dalam kehidupan masyarakat jawa adalah Gugon Tuhon. Masyarakat jawa dengan segala keyakinannya tentang hal-hal mistis pada akhirnya mempunyai mitos yang dipercaya secara kolektif dalam bentuk larangan-larangan dan nasehat-nasehat irrasional. Sebuah keyakinan irrasional ini disebut sebagai gugon tuhon, Kata gugon dari kata gugu + an, artinya mudah sekali percaya pada perkataan orang lain atau dedongengan ‘cerita dongeng’. Kata tuhon dari kata tuhu + an, artinya nyata; setia; sifat yang mudah percaya atau percaya kepada ucapan (dongeng) orang lain (Poerwadarminta, 1939: 611).
Secara umum faktor yang menjadikan adanya gugon tuhon ini adalah kepercayaan masyarakat jawa yang masih dipengaruhi oleh animisme dan dinamisme. Kebiasaan berpikir tentang hal mistis pada setiap benda dan peristiwa membentuk sebuah upaya untuk menghindari dan melakukan hal-hal konyol dan irasional seperti larangan untuk tidur di sore hari dan anjuran untuk menabuh pohon kelapa saat terjadi gerhana. Secara khusus ada faktor faktor tertentu yang kemudian menjadikan apa yang diucapkan oleh orang-orang tua jawa mengandung fakta dan dampak yang nyata. Bahkan beberapa orang menunjuk sisi positif dalam setiap ungkapan dan nasihat orang-orang jawa.
Menurut Subalidinata (1968:16 ) jenis gugon tuhon itu ada tiga macam yaitu :
a.       gugon tuhon salugu
b.      gugon tuhon kang isi pitutur sinandi
c.      gugon tuhon kan kalebu pepali utawa     wewaler.

Gugon tuhon salugu itu mirip dengan cerita atau dongeng kuno, yaitu anak (bocah dalam bahasa Jawa) yang termasuk golongan anak sukreta ‘tidak baik/kotor’ dan orang termasuk golongan panganjam-anjam ‘terancam’ itu akan menjadi mangsa atau makanannya Bethara Kala. Supaya anak-anak dan orang-orang terhindar dari atau sebagai mangsa Bethara Kala harus diruwat ‘disucikan’ dan sebagai sarana dipentaskan pula wayang kulit dengan lakon “Amurwakala”.
Gugon tuhon kang isi pitutur sinandi ‘gugon tuhon yang berisi nasehat yang tersembunyi/baik’, sebenarnya gugon tuhon tersebut memuat ajaran. Namun, ajaran itu tidak jelas, cuma disamarkan. Pada umumnya orang, kalau sudah dikatakan tidak baik atau ora ilok, kemudian takut melanggar. Sebenarnya larangan itu bertujuan untuk ajaran (kawruh), supaya tidak menjalankan berupa tindakan yang melanggar yang disebutkan dalam larangan itu. Larangan itu berisi nasehat, misalnya: lire wong mangan karo ndhodhok, yen dinulu saru ‘baiknya orang makan sambil jongkok itu tidak sopan’, maksudnya orang yang sedang makan sambil jongkong itu tidak nyaman atau tidak sopan dan bisa jadi makanan yang sedang dibawanya akan jatuh.
Gugon tuhon kan kalebu pepali utawa wewaler ‘gugon tuhon yang termasuk larangan’ gugon tuhon yang berisi nasehat larangan, sebenarnya gugon tuhon tersebut memuat ajaran. Ajaran itu jelas dengan adanya sangsi ketika dilanggar. Misalnya : wong-wong kang manggon ing desa Klepu (kulon jogja) ora kena nanggap wayang kulit, sebab jaman dulu tiap orang itu nanggap ‘mengadakan tontonan’ wayang kulit, setelah selesai pertunjukkan akan meninggal. Kemudian juga pernah terjadi, rumah yang digunakan untuk pertunjukkan wayang kulit tersebut dilempari batu, namun tidak ada yang tahu siapa yang melempari. Sehingga sampai sekarang orang-orang yang yang ada di desa Klepu merasa takut mengadakan tontonan/pertunjukkan yaitu wayang kulit.
Gugon tuhon kang isi pitutur sinandi ‘gugon tuhon yang berisi nasehat yang tersembunyi/baik’ adapun pembahasannya sebagai berikut:
1.      Aja ngidoni sumur, mundhak suwing lambene
Aja ngidoni sumur, mundhak suwing lambene ‘jangan meludahi sumur, karena dikawatirkan akan sumbing bibirnya’. Meludahi sumur akan sumbing bibirnya merupakan bentuk irasional/tidak logis. Sedangkan secara rasional, ludah itu kotor, dan air sumur yang baik harus dalam keadaan bersih yang berguna untuk memasak, minum, mandi dan sebagainya. Bila air sumur diludahi maka akan menjadi kotor dan tidak baik untuk dipergunakan sehari-hari.
2.      Aja lungguh bantal, mundhak wudunen
Aja lungguh bantal, mundhak wudunen ‘jangan duduk diatas bantal, karena dikawatirkan akan bisulan‘. Secara irasioal bantal yang diduduki karena dikawatirkan akan bisulan, sedangkan secara rasional, bantal merupakan tempat untuk kepala (sirah) – waktu manusia tidur – kemudian dipakai untuk pantat/bokong, hal tersebut tidak pantas dilakukan.
3.      Simpen lampit diedegake
Simpen lampit diedegake ‘menyimpan pisau diberdirikan’. menyimpan pisau dengan cara diberdirikan akan mengawatirkan, sebab jika ada anak kecil (bocah) yang kesitu dapat karubuhan/terkena pisau.
4.      Wong ngandhut lungguh tampah
Wong ngandhut lungguh tampah ‘orang yang sedang hamil duduk di tampah’. Orang yang sedang hamil duduk di tampah itu ora ilok. Secara rasional kalau tampah itu di duduki orang yang sedang hamil akan jebol atau rusak, dan bisa mengganggu kesehatan orang yang sedang hamil. Bahkan bila tampah diduduki oleh siapapun logikanya akan rusak karena fungsi tampah bukan untuk diduduki.
5.      Nyapu bengi
Nyapu bengi ‘menyapu pada malam hari’. Menyapu pada malam hari itu tidak baik karena menyapu pada malam hari tidak bersih serta mbledugi yang sedang tidur, atau bisa jadi menyapu dimalam hari, kotoran yang disapu tidak tampak jelas dikhawatirkan tidak bersih.
6.      Mbuwang uwuh aneng longan
Mbuwang uwuh aneng longan ‘membuang sampah di bawah kasur’. Itu pastinya tidak baik untuk kesehatan, sebab kalau sampah itu membusuk bisa menjadikan bau tidak sedap/tidak enak, bisa juga kondisi seperti itu untuk sarang bibit penyakit.
7.      Nyapu diendheg ana tengah lawang
Nyapu diendheg ana tengah lawang ‘menyapu berhenti di tengah lawang’. Ingatlah pintu itu kan jalan, kalau ada uwuh ‘kotoran/sampah’ pasti tidak enak dilihat atau kesannya rumah.
8.      Ngandhang kebo ana ing njero omah
Ngandhang kebo ana ing njero omah ‘merumahkan kebo di dalam rumah’ itu mestinya tidak baik. Secara irasional, kebo yang ada di dalam rumah akan mengurangi rejeki bahkan biasa jadi akan menolak rejeki yang datang. Sedangkan secara rasional, bau atau aroma kotoran kebo akan memenui rumah, bisa juga makanan yang mau dimakan manusia terkena kotoran sehingga kurang baik untuk tubuh manusia (kurang sehat).
Lebih jauh tentang gugon tuhon akan menyangkut berbagai aspek dalam khazanah kebudayaan jawa termasuk interelasinya dengan nilai-nilai religius agama islam. Juga dengan implikasinya pada kehidupan masyarakat jawa sendiri serta bagaimana gugon tuhon ini dapat bertahan dalam masyarakat modern sekarang ini.
Pengaruh hindu, Budha, islam, dan segala bentuk kolonial juga mewarnai kehidupan takhayul orang Jawa. Berbagai unsure budaya spiritual yang masuk ke Jawa diadopsi pelan-pelan, hingga seakan-akan menjadi milik orang Jawa. Maka, tak jarang orang Jwa yang masih memiliki keyakinan pada dewa, hantu, ramalan (eskatologi), kosmogoni, dan lain-lain. Raja-raja tempo dulu, dianggap sebagai titisan para dewa. Raja-raja tersebut dianggap memiliki kemampuan lebih, antara lain dapat berhubungan langsung dengan hantu. Takhayul seperti itu dari waktu ke waktu menjadi sebuah mitos yang lekat di hati masyarakat.
Gugon tuhon sebagai sebuah budaya tentu saja mengalami proses sinkretis dengan budaya-budaya islam. terdapat beberapa sisi dari gugon tuhon yang sudah umum dalam masyarakat. Diantaranya adalah bentuk-bentuk larangan yang berkaitan dengan kesucian tempat seperti kuburan, masjid, alquran,dan lain sebagainya. Orang jawa sering mengaitkan prinsip atau nilai-nilai islam dengan sesuatu yang mudah diingat. Contohnya adalah tentang roh-roh halus.
Takhayul orang Jawa terhadap kekuatan roh, benda-benda, tumbuhan, hewan, manusia yang bersifat animistis merupakan bentuk keyakinan asli yang pertama kali. Sebelum orang Jawa percaya pada hal-hal lain yang dipandang rasional, orang jawa puritan sebenarnya telah meyakini dinia irasional. Roh para leluhur, mereka anggap memilki sebuah pengalaman sakti yang akan memberikan berkah tersendiri bagi generasi berikutnya.
Paradigma pemikiran gugon tuhon memang amat pelik. Oleh karena gugon tuhon itu sebuah wacana “batin” yang sifatnya subjektif. Gugon tuhon baru menjadi jelas ketika telah muncul dalam fenomena. Begitu pula gugon tuhon orang jawa pada hantu, boleh dipercaya boleh tidak, karena pembuktianya juga rumit. Gugon tuhon itu sendiri sebuah teks budaya yang memiliki (fleksibel cnstruktion).
Prosesi ritus kematian pada masyarakat Jawa tradisional, biasanya diumumkan dengan cara gethok tular (pemberitahuan dari mulut ke mulut dan dari pintu ke pintu). Pemberitahuan ini disebut ngabari (memberitahukan) atau nglayati. Untuk mendukung kabar juga igunakan kenthongan dengan bentuk bunyi kenthong cugag, yaitu benyi kenthongan tiga kali-tiga kali. Pada saat mendengar beita kematian, orang Jawa sudah sering mencoba menghubungkan dengan tanda-tanda sebelumnya, seperti bunyi burung kolik dan burung gagak. Jika burung ini berbunyi berkali-kali, mereka bertanya-tanya siapa yang akan segera meninggal. Saat itu pula, mereka meyakini bahwa kematian terjadi dan segera dating ke tempatnya.
Orang yang datang takziah (melayat) seing disebut pembelasungkawa. Pada saat melayat, biasanya dilarang bersendagurau. Suasana harus kidmat dan menunjukan rasa susah yang dalam. Orang yang datng ada yang membantu memasukan uang ditempat (kotak) yang telah disediakan, lalu tangannya dibersihkan wijik pada wijikan yang diberi daun dadap. Para pelayat ada yang langsung pulang, ada pula yang menunggu sampai penguburan selesai. Jika pulang, mereka harus mandi besar (grujug) untuk menghilangkan sarap sawan (hal-hal yang tidak di inginkan).
Secara filosofis, keberadaan gugon tuhon dalam masyarakat Jawa dapat dilihat dari aspek ontologis (tentang yang ada) yang menjelaskan bahwa gugon tuhon merupakan pengetahuan yang tidak rasional atau tidak dapat dipahami oleh rasio, maksudnya hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio dan memiliki bentuk pemikiran dan ekspresi tentang kebenaran yang mutlak didalam suatu masyarakat. Ekspresi dan pemikiran yang tidak rasional ini kemudian membentuk suatu perilaku dalam kehidupan masyarakat dan menjadi suatu budaya dalam hal ini budaya jawa.
Kemudian berdasarkan aspek epistemologis (kebenaran dan kepastian), gugon tuhon dipahami sebagai ungkapan kebenaran yang dapat diperoleh melalui hasil aktivitas budi (pikiran), pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang mendukung ungkapan-ungkapan gugon tuhon menjadi perwujudan budaya Jawa.
Dalam masyarakat modern gugon tuhon berubah menjadi pitutur yang secara otomatis mempunyai nalar positif. Melihat orientasi masyarakat modern sangat bergantung pada aspek pragmatis tanpa mengindahkan sisi-sisi mistisnya maka kita bisa melihat gugon tuhon dari aspek aksiologisnya. Kegunaan utama dari gugon tuhon dalam budaya Jawa adalah memberi pengaruh yang baik terhadap masyarakat Jawa melalui ungkapan-ungkapan gugon tuhon tersebut yang secara langsung juga membentuk citra pancaran atau pengejawantahan budi manusia Jawa yang mencakup kemauan, cita-cita, ide maupun semangat dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup lahir batin.
Jadi, Gugon tuhon merupakan bentuk pancaran atau pengejawantahan budi manusia Jawa yang mencakup kemauan, cita-cita, ide maupun semangat dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup lahir batin dalam kebudayaan Jawa. Gugon tuhon dapat dipahami secara irasional maupun rasional yang pada intinya memberikan ajaran atau nasihat yang baik. Secara filosofis, keberadaan gugon tuhon dalam budaya Jawa tersebut dapat dilihat dari aspek ontologis (tentang yang ada), epistemologis (kebenaran dan kepastian), dan aksiologis (kegunaan ilmu pengetahuan).
Dapat disimpulkan bahwa takhayul (gugon tuhon) menjadi pijakan kejiwaan (kerohanian dan kebatinan). Atas dasar system kejiwaan ini orang Jawa mengenal berbagai alam hidup diluar dirinya. Alam hidup yang sering di pandang istimwa dalam takhayul adalah alam kodrati. Alam ini berada di atas rata-rata kejiwaan manusia normal. Karena itu, hanya masyarakat jawa yang gemar pada pemikiran supranormal yang mampu menggapai dunia adikodrati. Oleh karena alam adikodrati itu lebih eksklusif, orang Jawa mengasumsikan bahwa alam tersebut tergolong jagat sacral yang patut mendapat perhatian khusus. Keengganan untuk melanggar dari segal mitos , takhayul, dan kepercayaan tersebut adalah konsekuensinya. Meskipun tidak dibarengi dengn pikiran-pikiran rasional atau logis.

Sumber: 
http://marienthahera.blogspot.com/2014/01           /gugon-tuhon.html?m=1
       ~TERIMAKASIH ~

Bab Pangkur.

Serat Wédhatama (serat mangenani ajaran utama) nggih niku satunggaling rumpaka sastra Jawa Enggal kang saged digolongaken minangka moralistis-didaktis kang sekedik dipengaruhi Islam. Rumpaka punika secaos formal diserat dening Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja teng keraton Mangkunegaran Solo. Sanese kawentar keranten kapinterane marang elmu pangauning, piyambeke ugi kawentar keranten piyambeke mangrupiaken satunggaling tokoh ingkang sakti mandraguna, adil, lan arif bijaksana.  Lantaran olah laku spiritual kang mumpuni, piyambeke sedah kaliyan kasampurnan gesang sejati salebete ngadep Tuhan Ingkang Mahawisesa, nggih niku warangka manjing curigaatanapi anggayuh kamuksan, ngadep Gusti kaliyan raganipun sirna tan winekas.
Wonten indikasi nyaniya serat punika mboten diserat dening tiyang setunggal (Pigeaud, Rangga Warsitaet all, 1967:110). Serat punika dianggep minangka salah satunggaling puncak estetika sastra Jawa abad kaping 19 lan gadah karakter mistik kang kiat. Wangune nggih niku tembang, kang biasa dipigunakaken teng zaman punika. Serat punika mangadeg ing atase 100 pupuh (bait, canto) tembang macapat, kang dibagi teng selebete gangsal tembang, nggih niku :
Pangkur (14 pupuh,1 – 14)
Sinom (18 pupuh, 15 -32)
Pucung (15 pupuh, 33 – 47)
Gambuh (35 pupuh, 48-82)
Kinanthi (18 pupuh, 83-100)
Isi Serat Wédhatama ngrupiaken falsafah kagesangan, kados dene tenggang rasa, tepa salira, kepripun dados janma kang sampurna, nglampahaken agami secaos bijak, lan dados tiyang kang gadah watek ksatria.
.
TEMBANG PANGKUR
(Sembah Raga/Syariat)
1
Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.
Menahan diri dari nafsu angkara,
karena berkenan mendidik putra
disertai indahnya tembang,
dihias penuh variasi,
agar menjiwai tujuan ilmu luhur,
yang berlaku di tanah Jawa (nusantara)
agama sebagai landasan perbuatan.
.
2
Jinejer neng Wedatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun
Yen tan mikani rasa,
yekti sepi asepa lir sepah, samun,
Samangsane pasamuan
Gonyak ganyuk nglilingsemi.
Disajikan dalam serat Wedatama,
agar tidak miskin pengetahuan
walaupun tua pikun
jika tidak memahami rasa (sirullah)
niscaya sepi tanpa guna
bagai ampas, percuma,
pada tiap pertemuan
sering bertindak ceroboh, memalukan.
.
3
Nggugu karsaning priyangga,
Nora nganggo peparah lamun angling,
Lumuh ing ngaran balilu,
Uger guru aleman,
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis
Mengikuti kemauan sendiri,
Bila berkata tanpa pertimbangan (asal bunyi),
Tak mau dianggap bodoh,
senang mendapat pujian
namun bagi yang sudah cermat akan ilmu
justru selalu merendah diri,
selalu berprasangka baik.
.
4
Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda deniro cacariwis,
Ngandhar-andhar angendhukur,
Kandhane nora kaprah,
saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah,
Ngalingi marang si pingging.
Si Dungu tidak menyadari,
bualannya semakin menjadi-jadi,
mengelantur bicara yang tidak-tidak,
Bicaranya tidak masuk akal,
makin aneh tak ada jedanya.
Lain halnya Si Pandai cermat dan mengalah,
Menutupi aib si bodoh.
.
5
Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane mung weh reseping ati,
Bungah ingaran cubluk,
Sukeng tyas yen denina,
Nora kaya si punggung anggung gumrunggung
Ugungan sadina dina
Aja mangkono wong urip.
Demikianlah ilmu yang nyata,
sesungguhnya memberikan ketentraman hati,
Gembira dibilang bodoh,
Tetap gembira jika dihina
Tidak seperti si dungu yang selalu sombong,
Ingin dipuji setiap hari.
Janganlah begitu caranya orang hidup.
.
6
Urip sepisan rusak,
Nora mulur nalare ting saluwir,
Kadya guwa kang sirung,
Sinerang ing maruta,
Gumarenggeng anggereng
Anggung gumrunggung,
Pindha padhane si mudha,
Prandene paksa kumaki.
Hidup sekali saja berantakan,
Tidak berkembang nalarnya tercabik-cabik.
Umpama goa gelap menyeramkan,
Dihembus angin,
Suaranya gemuruh menggeram,
berdengung
Seperti halnya watak anak muda
Sudah begitu masih berlagak congkak
.
7
Kikisane mung sapala,
Palayune ngendelken yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning luhur,
Lha iya ingkang rama,
Balik sira sarawungan bae durung
Mring atining tata krama,
Nggon-anggon agama suci.
Tujuan hidupnya hanya sederhana,
Maunya mengandalkan orang tuanya,
Yang terpandang serta bangsawan
Itu kan ayahmu !
Sedangkan kamu dikenal saja belum,
akan hakikat tata krama
ajaran agama yang suci
.
8
Socaning jiwangganira,
Jer katara lamun pocapan pasthi,
Lumuh asor kudu unggul,
Semengah sesongaran,
Yen mangkono keno ingaran katungkul,
Karem ing reh kaprawiran,
Nora enak iku kaki.
Cerminan dari dalam jiwa raga mu,
Nampak jelas jika bertutur kata halus,
Sifat tidakmau kalah, ingin menang sendiri
Sombong besar mulut
Bila demikian itu, disebut orang yang terlena
Puas diri berlagak tinggi
Tidak baik itu, Nak !
.
9
Kekerane ngelmu karang,
Kekarangan saking bangsaning gaib,
Iku boreh paminipun,
Tan rumasuk ing jasad,
Amung aneng sajabaning daging kulup,
Yen kapengok pancabaya,
Ubayane mbalenjani.
Yang dibidik ilmu sihir
Rekayasa dari hal-hal gaib
Itu ibarat bedak.
Tidak meresap ke dalam jasad,
Hanya ada di luar daging
Bila terbentur marabahaya,
bisanya cuma menghindari.
.
10
Marma ing sabisa-bisa,
Bebasane muriha tyas basuki,
Puruita-a kang patut,
Lan traping angganira,
Ana uga angger-ugering kaprabun,
Abon-aboning panembah,
Kang kambah ing siyang ratri.
Karena itu berusahalah sebisa mungkin,
upayakan berhati baik
Bergurulah secara baik
Yang sesuai dengan dirimu
Ada juga peraturan dan pedoman bernegara,
Menjadi syarat bagi yang berbakti,
yang berlaku siang malam.
.
11
Iku kaki takok-eno,
marang para sarjana kang martapi
Mring tapaking tepa tulus,
Kawawa nahen hawa,
Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
Tan mesthi neng janma wredha
Tuwin mudha sudra kaki.
Hal itu tanyakan, Nak.
Kepada para sarjana yang menimba ilmu
Kepada jejaknya para suri teladan yang benar,
dapat menahan hawa nafsu
Pengetahuanmu adalah sejatinya ilmu,
Tidak mesti dikuasai orang tua,
Bisa juga bagi yang muda atau miskin, Nak !
.
12
Sapantuk wahyuning Gusti Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil
Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cemerlang mencerna ilmu tinggi,
Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
Kesempurnaan jiwa raga,
Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)
.
13
Tan samar pamoring sukma,
Sinuksmaya winahya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep layaping aluyup,
Pindha pesating sumpena,
Sumusuping rasa jati.
Tidak lah samar menyatunya sukma,
Meresap terpatri dalam semadi,
Diendapkan dalam lubuk hati
menjadi pembuka tirai,
Tidak lain berawal dari keadaan antara sadar dan tiada
Seperti terlepasnya mimpi
Merasuknya rasa yang sejati.
.
14
Sejatine kang mangkana,
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,
Bali alaming ngasuwung,
Tan karem karameyan,
Ingkang sipat wisesa winisesa wus,
Mulih mula mulanira,
Mulane wong anom sami.
Sebenarnya yang demikian itu
sudah mendapat anugrah Tuhan,
Kembali ke “alam kosong”,
tidak mengumbar nafsu duniawi,
yang bersifat kuasa menguasai.
Kembali ke asal mula.
Oleh karena itu, wahai anak muda sekalianSerat Wédhatama (serat mangenani ajaran utama) nggih niku satunggaling rumpaka sastra Jawa Enggal kang saged digolongaken minangka moralistis-didaktis kang sekedik dipengaruhi Islam. Rumpaka punika secaos formal diserat dening Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja teng keraton Mangkunegaran Solo. Sanese kawentar keranten kapinterane marang elmu pangauning, piyambeke ugi kawentar keranten piyambeke mangrupiaken satunggaling tokoh ingkang sakti mandraguna, adil, lan arif bijaksana.  Lantaran olah laku spiritual kang mumpuni, piyambeke sedah kaliyan kasampurnan gesang sejati salebete ngadep Tuhan Ingkang Mahawisesa, nggih niku warangka manjing curigaatanapi anggayuh kamuksan, ngadep Gusti kaliyan raganipun sirna tan winekas.
Wonten indikasi nyaniya serat punika mboten diserat dening tiyang setunggal (Pigeaud, Rangga Warsitaet all, 1967:110). Serat punika dianggep minangka salah satunggaling puncak estetika sastra Jawa abad kaping 19 lan gadah karakter mistik kang kiat. Wangune nggih niku tembang, kang biasa dipigunakaken teng zaman punika. Serat punika mangadeg ing atase 100 pupuh (bait, canto) tembang macapat, kang dibagi teng selebete gangsal tembang, nggih niku :
Pangkur (14 pupuh,1 – 14)
Sinom (18 pupuh, 15 -32)
Pucung (15 pupuh, 33 – 47)
Gambuh (35 pupuh, 48-82)
Kinanthi (18 pupuh, 83-100)
Isi Serat Wédhatama ngrupiaken falsafah kagesangan, kados dene tenggang rasa, tepa salira, kepripun dados janma kang sampurna, nglampahaken agami secaos bijak, lan dados tiyang kang gadah watek ksatria.
.
TEMBANG PANGKUR
(Sembah Raga/Syariat)
1
Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.
Menahan diri dari nafsu angkara,
karena berkenan mendidik putra
disertai indahnya tembang,
dihias penuh variasi,
agar menjiwai tujuan ilmu luhur,
yang berlaku di tanah Jawa (nusantara)
agama sebagai landasan perbuatan.
.
2
Jinejer neng Wedatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun
Yen tan mikani rasa,
yekti sepi asepa lir sepah, samun,
Samangsane pasamuan
Gonyak ganyuk nglilingsemi.
Disajikan dalam serat Wedatama,
agar tidak miskin pengetahuan
walaupun tua pikun
jika tidak memahami rasa (sirullah)
niscaya sepi tanpa guna
bagai ampas, percuma,
pada tiap pertemuan
sering bertindak ceroboh, memalukan.
.
3
Nggugu karsaning priyangga,
Nora nganggo peparah lamun angling,
Lumuh ing ngaran balilu,
Uger guru aleman,
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis
Mengikuti kemauan sendiri,
Bila berkata tanpa pertimbangan (asal bunyi),
Tak mau dianggap bodoh,
senang mendapat pujian
namun bagi yang sudah cermat akan ilmu
justru selalu merendah diri,
selalu berprasangka baik.
.
4
Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda deniro cacariwis,
Ngandhar-andhar angendhukur,
Kandhane nora kaprah,
saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah,
Ngalingi marang si pingging.
Si Dungu tidak menyadari,
bualannya semakin menjadi-jadi,
mengelantur bicara yang tidak-tidak,
Bicaranya tidak masuk akal,
makin aneh tak ada jedanya.
Lain halnya Si Pandai cermat dan mengalah,
Menutupi aib si bodoh.
.
5
Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane mung weh reseping ati,
Bungah ingaran cubluk,
Sukeng tyas yen denina,
Nora kaya si punggung anggung gumrunggung
Ugungan sadina dina
Aja mangkono wong urip.
Demikianlah ilmu yang nyata,
sesungguhnya memberikan ketentraman hati,
Gembira dibilang bodoh,
Tetap gembira jika dihina
Tidak seperti si dungu yang selalu sombong,
Ingin dipuji setiap hari.
Janganlah begitu caranya orang hidup.
.
6
Urip sepisan rusak,
Nora mulur nalare ting saluwir,
Kadya guwa kang sirung,
Sinerang ing maruta,
Gumarenggeng anggereng
Anggung gumrunggung,
Pindha padhane si mudha,
Prandene paksa kumaki.
Hidup sekali saja berantakan,
Tidak berkembang nalarnya tercabik-cabik.
Umpama goa gelap menyeramkan,
Dihembus angin,
Suaranya gemuruh menggeram,
berdengung
Seperti halnya watak anak muda
Sudah begitu masih berlagak congkak
.
7
Kikisane mung sapala,
Palayune ngendelken yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning luhur,
Lha iya ingkang rama,
Balik sira sarawungan bae durung
Mring atining tata krama,
Nggon-anggon agama suci.
Tujuan hidupnya hanya sederhana,
Maunya mengandalkan orang tuanya,
Yang terpandang serta bangsawan
Itu kan ayahmu !
Sedangkan kamu dikenal saja belum,
akan hakikat tata krama
ajaran agama yang suci
.
8
Socaning jiwangganira,
Jer katara lamun pocapan pasthi,
Lumuh asor kudu unggul,
Semengah sesongaran,
Yen mangkono keno ingaran katungkul,
Karem ing reh kaprawiran,
Nora enak iku kaki.
Cerminan dari dalam jiwa raga mu,
Nampak jelas jika bertutur kata halus,
Sifat tidakmau kalah, ingin menang sendiri
Sombong besar mulut
Bila demikian itu, disebut orang yang terlena
Puas diri berlagak tinggi
Tidak baik itu, Nak !
.
9
Kekerane ngelmu karang,
Kekarangan saking bangsaning gaib,
Iku boreh paminipun,
Tan rumasuk ing jasad,
Amung aneng sajabaning daging kulup,
Yen kapengok pancabaya,
Ubayane mbalenjani.
Yang dibidik ilmu sihir
Rekayasa dari hal-hal gaib
Itu ibarat bedak.
Tidak meresap ke dalam jasad,
Hanya ada di luar daging
Bila terbentur marabahaya,
bisanya cuma menghindari.
.
10
Marma ing sabisa-bisa,
Bebasane muriha tyas basuki,
Puruita-a kang patut,
Lan traping angganira,
Ana uga angger-ugering kaprabun,
Abon-aboning panembah,
Kang kambah ing siyang ratri.
Karena itu berusahalah sebisa mungkin,
upayakan berhati baik
Bergurulah secara baik
Yang sesuai dengan dirimu
Ada juga peraturan dan pedoman bernegara,
Menjadi syarat bagi yang berbakti,
yang berlaku siang malam.
.
11
Iku kaki takok-eno,
marang para sarjana kang martapi
Mring tapaking tepa tulus,
Kawawa nahen hawa,
Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
Tan mesthi neng janma wredha
Tuwin mudha sudra kaki.
Hal itu tanyakan, Nak.
Kepada para sarjana yang menimba ilmu
Kepada jejaknya para suri teladan yang benar,
dapat menahan hawa nafsu
Pengetahuanmu adalah sejatinya ilmu,
Tidak mesti dikuasai orang tua,
Bisa juga bagi yang muda atau miskin, Nak !
.
12
Sapantuk wahyuning Gusti Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil
Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cemerlang mencerna ilmu tinggi,
Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
Kesempurnaan jiwa raga,
Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)
.
13
Tan samar pamoring sukma,
Sinuksmaya winahya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep layaping aluyup,
Pindha pesating sumpena,
Sumusuping rasa jati.
Tidak lah samar menyatunya sukma,
Meresap terpatri dalam semadi,
Diendapkan dalam lubuk hati
menjadi pembuka tirai,
Tidak lain berawal dari keadaan antara sadar dan tiada
Seperti terlepasnya mimpi
Merasuknya rasa yang sejati.
.
14
Sejatine kang mangkana,
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,
Bali alaming ngasuwung,
Tan karem karameyan,
Ingkang sipat wisesa winisesa wus,
Mulih mula mulanira,
Mulane wong anom sami.
Sebenarnya yang demikian itu
sudah mendapat anugrah Tuhan,
Kembali ke “alam kosong”,
tidak mengumbar nafsu duniawi,
yang bersifat kuasa menguasai.
Kembali ke asal mula.
Oleh karena itu, wahai anak muda sekalian.


                              Terimakasih

BAB PRANATACARA

       Mc utawa Master of  Ceremony  istilah sing misuwur tumraping pranatacara. Pranatacara kajibah ngalantarake titilaksana upacara pasamuan,temanten, lan sapanunggalane. Basa sing dienggo pranatacara gumantung karo upacarane.
 
A. Maca lan Nanggapi Teks Pranatacara

    Gatekna pethilan teks pranatacara ngisor iki!

Assalamualaikum Wr.Wb.
        
       Dhumateng panjenenganipun para pepundhen,para sesepuh pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautaman ingkang pantes pinundhi.
       Para pangemban pangembating praja satriyaning negari minangka pandam pandoming kawula dasih ingkang sinuba ing pakurmatan.

  .....

       Caos uninga katur dhumateng para lenggah,bilih titi laksana ijab qobul putra pinangaten,nun inggih Rara Ayu Fitri putra putrinipun Bapa Joko Susena ingkang kadhaupaken kaliyan Bagus Ganes  Sri Narendra putra kakungipun Bapa Agus Dahlan ingkang lenggah wonten sekayu Semarang,sampun kaleksanan kanthi wilujeng nir ing rubeda duk nalika dinten selasa,29 Maret 2017 wanci tabuh 09.00 mapan ing Sekayu.

       Pranatacara kakung sumawana putri,wondene menggah reroncening tata adicara ingkang sampun rinancang rinacik rinumpaka dening para kaluwangsa nun inggih :
  1. Binuka kanthi sowaning putra Temanten sarimbit saking sasana busana;
  2. Purnaning tata upacara sowanipun pinanganten;
  3. Atur panbagya yuwana saking hamengku karsa;
  4. Ndungkap titi taksana tataran angka sekawan,lir gumanti pasrah saha panampining putra Temanten;
  5. Adicara ingkang angka gansal sabdatama;
  6. Wondene pratandha pumaning pahargyan saking kulawarga minangka paran para.



B.  Nemokake isi pokok teks pranatacara 
      Isi teks pranatacara ing duwur,yaiku:
     1.teks pranatacara kasebut ngandharake titi laksana ijan qabul;
     2. Acara binuka kanthi sowane Temanten sarimbit,waosan Kalamullah,atau pambagya hamengku karsa,pasrah, sabdatama,lan paran para.


C.  Mbedhah kaidah pranatacara
   Urut-urutane teks pranatacara:
   1. Salam pambuka;
   2. Atur pamuji;
   3. Atur kasugengan,kairing atur panuwun;
   4. Wedharing gati;
   5. Atur nyuwun pangapura;
   6. Panutup;
   7. Salam panutup.

D. Maca teks pranatacara
    Supaya anggone maca teks pranatacara gampang dimengerteni,kudu ngatekake babagan ngisor iki:
     1. Pangucapane kang trep 
     2. Pamedhote ukara kang trep
     3. Intonasi,nada,lan tekanan kang trep 
     4. Mangerteni tandha wacan kanthi trep
     5. Swara kang cetha
     6. Ngatur alon lan cepete pamaca
     7. Ngolah treping mlebu wetuning napas 
     8. Mahami wacan 
     9. Pracaya marang dhiri pribadi.

I. Kawruh kagunan basa 
     Tembung Yogyaswara 
       Tembung Yogyaswara,yaiku rong tembung kang tulisan apadene pakecapane meh padha,dianggo berbarengan,lan nduweni teges lanang-wadon.
Contone:

Bathara-bathari.                        Kedhana-kedhini


F.  Tembung entar
        Entar tegese silihan,yaiku tembung nduweni tegesora salugune.Tembung entar nduweni isi kang geseh karo tetembungane (gadhah teges kiyas).
Contone:
 
Gedhe endhase = gumedhe.                         Kethul pikire=bodho


G. Rura basa 
       Rura asale saka tembung rurah kang rusak utawa bubrah.Rura basa iku basa kang rusak utawa bubrah, amarga ora ketemu nalar. Rira basa iku basa kang salah,ning wiskabacut lumrah.
Contone:

 Godhog wedang
Ngiuleg sambel


H. Panyandra 
       Panyandra asale saka tembung candra,kang duwe teges wetunan kaanan mewujudkan sarana  perpindahan.kang diutamakake ing panyandra iku bergambaraning kaendhan kang kawengku ing samubarang lang dicandra. Panyandra menggah kabergssaning badan.
Contone:

Rambute ngombak banyu
Drijine mucuk eri


I .  Pepindhan
         Pepindhan iku tetembungan kang ngemu isi irib-iriban utawa emper-emperan.padha karo kekarepan karo kaya,kadi,kadya,lir,pendah.
Contone:

Lakune kaya macan luwe
Rukune kaya mimi lan mintuna






Sumber : 
Gegaran nyinau Basa Jawa 1 Kelas X Sma/Smk/Ma.

Kamis, 23 Januari 2020

BAB BUSANA ADAT JAWA

~Babakan Pakaian Adat Jawa Tengah~

 1.  Klambi adat resmi Jawa Tengah

Klambi adat resmi Jawa Tengah diarani Jawi Jangkep lan Kebaya. Jawi Jangkep yaiku klambi priya kang antarane ana kelengkapan kang digunaake kanggo perlengkapan adat. Jawi Jangkep iku arupa ndhuwuran yaiku klambi beskap motif kembang – kembang, lan ngisoran kang arupa kain jarik kang dililitake ing bangkikan, destar arupa blangkon, sarta pernik – pernik kang arupa keris lan cemila (sandal). Dene kebaya yaiku klambi adat piyantun putri kang arupa ndhuwuran yaiku kebaya, kemben, stagen, kain tapih pinjung, kondhe, sarta maneka rupa pernik – pernik kang arupa ali – ali, subang, kalung, gelang, lan kipas. Ing kasunyatane, panganggone klambi adat mau diatur kanthi adhedhasar strata utawa kelas sosial prinyatune.

Kebaya

Ing umume, kebaya digawe saka bahan kain katun, beludru, sutera brokat, lan nilon kang warnane padhang, kaya ta putih, abang, kuning, ijo, biru, lan sapinunggalane. Dene model kebayane ana kang arupa kebaya dhawa kang dhawane nganti tekan dhengkul, lan kebaya cekak kang dhawane mung nganti sakdhawane bangkikan. Ing bagian ngarep, yaiku bagian dhadha, ana kain persegi panjang kang nduweni fungsi nyambungake sisi kiwa lan tengen. Kanggo ngencengake lilitan mau, piyantun putri biasane nganggo stagen kang diubetake ing weteng nganti sak enteke stagen mau. Supaya ora katon saka njaba, stagen banjur ditutupi nganggo selendang pelangi kang rupane cerah.



2.      Pakaian Pengantin Adat Jawa Tengah



Sakliyane klambi resmi, ugo dimangerteni saperang jinis klambi penganten adat ing sajroning adat Jawa Tengah. Klambi pengantin mau akeh cacah ragam lan renane gumantung saka adicara kang lagi kaleksanan. Ing adat pernikahan Jawa, ana saperangan upacara ritual kang kudu dilakoni dening pinanganten keloron. Upacar-upacar kuwi yaiku ana kang disebut midodareni, upacara ijab, lan upacara sakbanjure ijab. Ing saben upacara mau, penganten wajib nganggo sperangan klambi penganten kang bisa dipilah dadi kaya ing ngisor iki:



Upacara Midodareni

Ing upacara midodareni, klambi pengantin lanang yaiku klambi Jawa Jangkep kang antarane ana klambi atela, sikepan, udheng, sabuk timang, kain jarik kanggo ngisoran, keris, lan sandal selop. Dene penganten wadon nganggo busana sawitan. Busana sawitan mau yaiku kebaya lengen dawa, stagen, lan kain jarik kang motife batik.

Upacara Ijab

Ing upacara ijab, klambi kang dianggo ening penganten wadon yaiku klambi kebaya lan kain jarik, dene penganten lanang nganggo klambi telesan. Klambi telesan kang dimaksud yaiku klambi saka dodot bangun tulak, kulu matak petak, sabuk lan timang cinde, stagen, lan kathok dawa werna putih, keris warangka ladrang, lan sandal selop.

Upacara Panggih

Ing upacara panggih, penganten keloron nganggo klambi adat Jawa Tengah kang diarani klambi telesan. Klambi telesan yaiku kemben, dodot bangun tulak (kampuh), selendang sekar cinde abang (sampur), lan kain jarik motif cinde sekar abang. Kajaba saka kuwi, anak saperangan perhiassan kang dipaang ing pemganggone pengantin wadon. Dene penganten lanang, perhiasan mau yaiku kalung ulur, ali – ali, timang/epek, bros, lan buntelan.. dene penganten wadon perhiasane yaiku cunduk mentul, centung, jungkat, kalung, ali-ali, gelang, bros, subang, lan timang.

Upacara Sakbanjure Panggih

Ing upacara sakbanjure panggih, penganten keloron nganggo klambi kanigaran (wanita) lan klambi kapangeranan (pria). Klambi kanigaran yaiku klambi kebaya kanggo ndhuwuran, kain jarik, stagen, lan sandal selop. Dene klambi kapangeranan yaiku stagen, kuluk kanigara, sabuk timang, kain jarik, klambi takwa, keris warangka ladrang, lan sandal selop.


Sumber :
Simak lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/8142064#readmore

Kamis, 16 Januari 2020

RINGKASAN MATERI KELAS X


A.TEMBANG DOLANAN
TEMBANG DOLANAN
Tembang dolanan iku jinis tembang sing prasaja, biasa ditembangake dening bocah-bocah cilik, utamane ing padesan, sinambi dolanan bebarengan karo kanca-kancane. Lumantar lagu dolanan, bocah-bocah dikenalake bab sato kewan, sato iwen, thethukulan, tetanduran, bebrayan, lingkungan alam, lan sapanunggalane.
Kadhangkala tembang dolanan uga ditembangake dening waranggana jroning swasana tinamtu ing pagelaran wayang kulit.
Iki kaca kanggo ngumpulake syair tembang dolanan utawa tembang sing kerep diunekke bocah-bocah.
Cublak-cublak suweng
Gajah gajah
Gambang Suling
Gundhul Pacul
Jamuran
Jaranan
Kidang Talun
Kupu Kuwi
Lir Ilir
Menthok Menthok
Padhang Bulan
Pitik Tukung
Suwe Ora Jamu
Cublak-cublak suweng iku sawijining tembang dolanan, sing biasa ditembangaké déning bocah-bocah cilik sinambi dolanan bebarengan kanca-kancané.
Cublak cublak suweng
Suwenge ting gelèntèr
Mambu ketundhung gudèl
Pak empong lera-léré
Sapa ngguyu ndelikkaké
Sir sir pong dhelé gosong
Sir sir pong dhelé
Gajah-gajah kuwi salah sawijining tembang dolanan sing kerep ditembangaké déning bocah-bocah cilik nalika utawa sinambi dolanan. Surasa tembang Gajah gajah kaya tinulis ing ngisor iki:
Gajah, gajah, mréné tak kandhani jah
mripat koyo laron, siung loro, kuping gedhé
kathik nganggo tlalé
buntut cilik, tansah kopat kapit
sikil koyo bumbung
mung mlakumu mégal mègol
Gundhul Pacul amujudaké tembang bocah-bocah kang populèr ing Jawa Tengah. Tembang iki kalebu tembang lelucon. Surasané tembang kasebut, koyo kang tinulis ing ngisor iki:
Gundhul gundhul pacul cul, gembèlengan
nyunggi nyunggi wakul kul, gembèlengan
wakul ngglimpang, segané dadi sak ratan
wakul ngglimpang, segané dadi sak ratan
Lirik tembang Gambang Suling:
Gambang suling, ngumandhang swarané
thulat thulit, kepénak uniné
uuuuniné mung
nreyuhaké ba-
reng lan kentrung ke-
tipung suling, sigrak kendhangané
Tèks tembang Menthog Menthog:
Menthok, menthok, tak kandhani
mung rupamu, angisin-isini
mbok yo ojo ngetok, ono kandhang waé
enak-enak ngorok, ora nyambut gawé
menthok, menthok ... mung lakukumu megal megol gawé guyu

B. PARIKAN BAHASA JAWA
PARIKAN BAHASA JAWA
Parikan iku unen-unen kang dumadi seka rong (2) ukara. Ukara sepisanan kanggo narik kawigaten, kang kapindho minangka isi. Parikan iki kaya pantun nanging mung rong larik. Parikan migunaake purwakanthi swara. Purwakanthi parikan bisa digawe mawa petungan kang adhedhasar petungan wanda (suku kata).
4 wanda - 4 wanda
wajik klethik, gula jawa
luwih becik wong prasaja
jemek-jemek gulo jowo ojo ngenyek podho konco
4 wanda - 8 wanda
tawon madu, ngisep sari kembang jambu
aja nesu yen ditudhuake luputmu
8 wanda - 8 wanda
kayu urip ora ngepang, ijo-ijo godhong jati
uwong urip ora gampang, mula padha ngati-ati

GAMBAR WAYANG
GAMBAR PANDAWA


C. TEMBANG MACAPAT
TEMBANG MACAPAT
Macapat adalah embangjawa kang kaiket dening guru lagu, guru wilangan an guru gatra. Macapat juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Madura, dan Sunda. Apabila diperhatikan dari asal-usul bahasanya(kerata basa), macapat berarti maca papat-papat(membaca empat-empat).Cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga di Jawa. Tetapi perkiraan tersebut masih belum pasti, karena tidak ada bukti tertulis yang bisa memastikan. Macapat banyak digunakan di dalam beberapa Sastra Jawa Tengahan lan Sastra Jawa Baru. Kalau dibandingkan dengan Kakawin, aturan-aturan dalam macapat lebih mudah. Kitab-kitab zaman Mataram Baru, seperti Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, dan yang lainnya disusun dengan lagu ini. Aturan-aturan tersebut ada pada:
Guru gatra        : Cacahing gatra/baris saben sapada.
Guru wilangan : Cacahing kata/wanda saben sagatra/baris.
Guru lagu         : Tibaning swara ing pungkasaning gatra/baris.
Urutan tembang macapat tersebut seperti tersebut di bawah ini:
Maskumambang
Menggambarkan bayi masih dalam kandungan ibunya, yang belum diketahui jenis kelaminnya,kumambang berarti mengambang dalam kandungan ibu.
Mijil
Berarti sudah dilahirkan dan jelas laki-laki atau perempuan.
Sinom
Berarti masa muda, yang paling penting untuk pemuda adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Kinanthi
Dari kata kanthi atau tuntun yang berarti dituntun supaya bisa menjalani kehidupan di dunia.
Asmarandana
Berarti cinta, cinta laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya yang merupakan takdir Ilahi.
Gambuh
Dari kata jumbuh / bersatu yang berarti apabila sudah bersatu dalam cinta, perempuan dan laki-laki tersebut bisa menjalani hidup bersama.
Dhandhanggula
Menggambarkan kehidupan manusia dalam kebahagiaan ketika berhasil meraih cita-cita.Menemukan jodoh, melahirkan anak, kehidupan yang sejahtera, dsb.
Durma
Dari kata darma / sedekah. manusia jika sudah merasa hidup cukup, dalam dirinya tumbuh rasa kasih sayang kepada sesamanya yang sedang kesusahan, sehingga akan tumbuh keinginan untuk berbagi.Hal tersebut didukung juga dari moralitas agama dan watak sosial manusia.
Pangkur
dari kata mungkur yang berarti menyingkirkan hawa nafsu angkara murka.Yang menjadi prioritas hidup adalah keinginan unutk berbagi dan peduli dengan sesama.
Megatruh
Dari kata megat roh/pegat rohe atau terpisahnya nyawa, ketika takdir kematian datang.
Pocung
Ketika tinggal jasad tersisa, dibungkus dengan kain mori putih atau dipocong sebelum dikuburkan.
Cacahing guru gatra, guru wilangan, lan guru lagu
No
Jinising Tembang Macapat
Cacahing guru gatra
Cacahing guru wilangn lan guru lagu
1
Maskumambang
4 gatra
12i, 6a, 8i, 8a
2
Pocung
4 gatra
12u, 6a, 8i, 12a
3
Megatruh
5 gatra
12i, 8i, 8u, 8i, 8o
4
Gambuh
5 gatra
7u, 10u, 12i, 8u, 8o
5
Kinanthi
6 gatra
8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i
6
Mijil
6 gatra
10i, 6o, 10e, 10i, 61, 6u
7
Durm
7 gatra
12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 6a, 7i
8
Pangkur
7 gatra
8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i
9
Asmaradana
7 gatra
8i, 8a, 8e/o, 8a, 8a, 8u, 8a
10
Sinom
9 gatra
8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a
11
Dhandhanggula
10 gatra
10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a
D. BAHASA JAWA
BAHASA JAWA

TOKOH PANDAWA DALAM KESENIAN WAYANG
oleh

Sutini, BA
Dalam Nawasari Warta Edisi II telah disebutkan bahwa salah satu jenis wayang adalah wayang Purwa. Di Museum Mpu Tantular Wayang Purwa dipamerkan di Ruang VII yaitu Ruang Koleksi Kesenian.
Untuk mengenal lebih dekat dengan wayang Purwa, maka kita harus mencoba untuk mengenal para pelaku dari wayang tersebut. Biasanya wayang Purwa ceriteranya berkisar antara ceritera Mahabarata atau Ramayana. Dalam ceritera Mahabarata ada pihak PANDAWA dan pihak KURAWA. Untuk kali ini hanya membahas tentang TOKOH PANDAWA.
Asal Usul
Prabu Pandu Dewanata mempunyai dua orang isteri yaitu Dewi Kuntitalibrata dengan Dewi Madrim. Prabu Pandu adalah putra Raden Abiyasa raja dari Astina, sedangkan Dewi Kuntitalibrata adalah putri dari Prabu Kuntibojo raja Mandura, dan Dewi Madrim adalah putri dari Prabu Mandrapati raja Mandraka.
Dari perkawinan Pandu dengan Kunti menghasilkan 3 putra yaitu: Puntadewa, Bratasena dan Arjuna, sedangkan dari perkawinannya dengan Madrim menghasilkan 2 putra, yaitu: Nakula dan Sadewa, yang dilahirkan kembar. Tetapi kedua anak kembar ini mulai kecil diasuh oleh ibu Kunti karena ditinggal mati ayah dan ibunya (Madrim).
.
Kelima anak Prabu Pandu itulah yang disebut dengan PANDAWA
1. PUNTADEWA.
adalah raja negara Amarta atau Indrapasta. Setelah perang Baratayuda Puntadewa menjadi raja Astina yang bergelar Prabu Kalimataya. Nama lain yang dipakai adalah: Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Yudistira, Sami Aji (sebutan dari Prabu Kresna). Sifatnya: jujur, sabar, hatinya suci, berbudi luhur, suka menolong sesama, mencintai orang tua serta melindungi saudara-saudaranya.
Pusakanya bernama: Jamus Kalimasada, yang mempunyai kekuatan sebagai perlindungan dan petunjuk pada kebenaran serta kesejahteraan. Mempunyai dua isteri yaitu: Dewi Drupadi dan Dwi Kuntulwilaten.
2. BRATASENA.
Setelah dewasa bernama Werkudara. adalah ksatria Jodipati dan Tunggulpamenang. Pernah menjadi raja di Gilingwesi, dengan gelar Prabu Tuguwasesa. Nama lain yang dipakai adalah: Bima, Bayusutu, Dandun Wacana, Kusuma Waligita. Sifatnya: jujur, tidak sombong, jiwanya suci, sangat patuh kepada guru-gurunya (terutama dengan Dewa Ruci), mencintai ibunya serta menjaga saudara-saudaranya. Bila berperang semboyannya adalah menang, bila kalah berarti mati. Bratasena adalah merupakan suri tauladan kehidupan dengan sifat yang jujur dan jiwanya suci.
Pusakanya adalah: Kuku Pancanaka di tangan kanan dan kiri sangat ampuh, sangat kuat dan tajam. Selain kuku pancanaka Werkudara juga mempunyai kekuatan angin (lima kekuatan angin), serta dapat membongkar gunung. Mempunyai dua permaisuri yaitu: Arimbi dan Nagagini. Dengan Arimbi mendapatkan putra bernama Gatotkaca, yang dapat terbang tanpa sayap. Dari perkawinannya dengan Nagagini memperoleh putra bernama Antasena yang dapat masuk ke dalam bumi dan menguasai samodra. Bratasena pada waktu lahir dalam keadaan bungkus. Yang menyobek bungkus tersebut adalah Gajah Situ Seno. Pada waktu itu Gajah Situ Seno masuk ke dalam tubuh Bratasena, sehingga mempunyai kekuatan luar biasa dan bisa menyobek bungkus tersebut.
3. ARJUNA.
adalah ksatria Madukara, juga menjadi raja di Tinjomoya. Nama lain yang dipakai sangat banyak, antara lain: Janaka, Parta, Panduputra, Kumbawali, Margana, Kuntadi, Indratanaya, Prabu Kariti, Palgunadi, Dananjaya. Sifatnya: Suka menolong sesama, gemar bertapa, cerdik dan pandai, ahli dibidang kebudayaan dan kesenian.
Arjuna adalah ksatria yang sakti mandraguna, kekasih para Dewa, ia adalah titisan Dewa Wisnu. Istri Arjuna banyak sekali, ia dijuluki lelananging jagad, parasnya sangat tampan dan tidak ada tandingannya. Permaisurinya di arcapada adalah Wara Sumbadra dan Wara Srikandi. Selain itu masih banyak lagi istri-istrinya antara lain: Rarasati, Sulastri, Gandawati, Ulupi, Maeswara, dsbnya.
Permaisuri di kahyangan antara lain Dewi Supraba, Dewi Dersanala pada bidadari di Tinjomaya. Arjuna berjiwa ksatria, berjiwa luhur, suka menolong, serta kesayangan para Dewa. Tetapi ada kelemahan yang tidak boleh diteladani dan ditrapkan pada jaman sekarang yaitu beristri banyak.
4. NAKULA.
adalah anak ke empat Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Madrim yang lahir kembar dengan Sadewa. Ayah dan ibunya (Madrim) meninggal pada waktu si kembar masih kecil, oleh karena itu sejak kecil mereka diasuh oleh ibu Kunti dengan tidak membedakan antara satu dengan lainnya.
Setelah perang Bratajuda Nakula dan Sadewa menjadi raja di Mandraka dengan Sadewa. Nama lain adalah Raden Pinten. Nakula adalah ahli dalam bidang Pertanian. Pada waktu perang Baratayuda, Nakula dan Sadewa yang bisa meluluhkan hati Prabu Salya (dari pi- hak Kurawa). Sebab Prabu Salya adalah saudara Dewi Madrim, selain itu sebenarnya dalam hatinya memihak pada kebenaran yaitu Pandawa. Akhirnya Prabu Salya memberitahukan kepada Nakula dan Sadewa bahwa yang bisa mengalahkannya hanyalah Puntadewa, karena Puntadewa berdarah putih.
5. SADEWA.
adalah anak kelima Prabu Pandu dengan Madrim, dilahirkan kembar dengan Nakula. Setelah perang Baratayuda Sadewa menjadi raja dengan Nakula di Mandraka. Nama kecil Sadewa adalah raden Tangsen. Sadewa adalah ahli dalam bidang peternakan.
Ia kawin dengan Endang Sadarmi, anak Bagawan Tembangpetra dari Pertapaan Parangalas, dan mempunyai putra bernama Sabekti.


~Terimakasih semoga bermanfaat dan bisa membantu belajar kalian~